Awalnya tikus emas bercita-cita menjadi polisi, terus kata tetangga-tetangga disekitar nya
"Kau jadi insinyur aja"
"Kau jadi pilot aja, bisa terbang kesana kemari"
"Owh, jadi dokter gak usah lah, biayanya terlalu mahal"
Jadi, Sitikus yang gak pernah gak juara pertama semenjak kelas satu SD hingga menjelang kelas 3 SMP ini, menang sering terbawa-bawa lingkungan. Misalnya, ketika SD orang tuanya berencana memasukkan dirinya ke pesantren didekat kotamadya, tetapi masih dalam lingkungan kabupaten yang sama. Tetapi, mau menjelang tamat SD, orang tua nya mengatakan kamu sekolah di SMP dekat kampung asal ayah mu saja. Nah, akhirnya sitikus sekolah di SMP kelahiran ayahnya, dan tinggal bersama bibi nya (bibi ini bibi jauh, kakak dari ayah tikus, saudara sebapak).
Nah, ketika SMP, orang tuanya mengatakan, sitikus masuk STM aja, ntar setelah tamat STM. tikus bisa lansung bekerja. Ini ternyata manjur diawal doang. Tikus akhirnya masuk SMA boarding school yang ternama di kabupatennya. Melalui test yang ketat (entah seberapa ketat), tikus akhirnya bisa lulus test recruitmen dan bersekolah disana.
Semenjak bersekolah di sekolah ternama, sitikus ini berkembang pesat, awalnya dia hanya bisa mengikuti beberapa kompetisi dan menjuarai tingkat kabupaten dan tingat provinsi. Tingkat Nasional dia hanya pernah mengikuti kompetisi yang diselenggarakan oleh UGM jogjakarta.
Nah, apa cita-cita tikus sebenarnya??
Emang sih, cita-cita itu bisa berubah setiap saat. Tapi sepertinya tikus ini gak bisa jauh-jauh dari kampuang halamannya. Dia pengen bertani. Walaupun badannya tidak begitu kuat untuk bertani.
Akh, bukan itu, dia ingin jadi programmer, owh tidak. Penulis juga tidak begitu yakin akan menulis kan apa untuk cita-cita sitikus. Yang jelas sitikus itu tidak pernah bercita-cita jadi pemain sepakbola.